Share it

Rabu, 15 Juni 2011

NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nitrifikasi adalah suatu proses oksidasi enzimatik yakni perubahan senyawa ammonium menjadi senyawa nitrat yang dilakukan oleh bakteri-bakteri tertentu. Proses ini berlangsug dalam dua tahap dan masing-masing dilakukan oleh grup bakteri yang berbeda. Tahap pertama adalah proses oksidasi ammonium menjadi nitrit yang dilaksanakan oleh bakteri Nitrosomonas dan tahap kedua adalah proses oksidasi enzimatik nitrit menjadi nitrat yang dilaksanakan oleh bakteri Nitrobakter (Damanik, dkk, 2011).
Denitrifikasi adalah reduksi nitrat menjadi nitrogen gas dan lepas dari tanah. Sesungguhnya, dalam hutan klimaks dan padang rumput yang kandungan bahan organik tanahnya kira-kira tetap dari tahun ke tahun dan jumlah nitrogen yang didaurkan di dalam tanah, penambahan nitrogen melalui penambatan mengarah pada kehilangan nitrogen dari tanah melalui denitrifikasi. Dengan demikian, denitrifikasi merupakan salah satu prose yang palig nyata dalam daur nitrogen dan menjadi penyebab kehilangan nitrogen secara nyata dari tanah (Foth, 1994).
Bila pupuk organik diberikan pada tanah, nitrogen yang terkandung didalamnya digunakan oleh jasad renik (mikroorganisme) untuk pertumbuhannya sendiri. Dengan bahan organik yang mempunyai kandungan nitrogen rendah (nisbah karbon terhadap nitrogen, atau C/N tinggi), seperti jerami padi atau brangkas jagung (mikroorganisme) jasad renik akan mengambil nitrogen yang diperlukan untuk memecah bahan itu, dari tanah dan dengan demikian menyebabkan kekurangan hara tanaman yang paling esensial ini untuk sementara waktu ( Williams, et al 1993).
Mineral N diteukan pada padang rumput dan tanah hutan dalam bentuk NH4+ paling tinggi yang mengesankan bahwa nitrifikasi tertekan, memungkinkan disebabkan dari sekresi persenyawaan inhibitor oleh akar dari spesies tertentu. Secara umum pemasukan N dalam secara kasar seimbang dengan kehilangan melalui pencucian dalam komunitas tanaman alami, pembersihan hutan, sedangkan tingkat rataan nitrifikasi da keberadaannya untuk diserap tanaman dalam bentuk NO3- menimbulkan kehilangan N yang besar dalam aliran permukaan (White, 1987).
Terdapat pula proses tanpa mikroba dimana nitrogen terdapat tereduksi dalam tanah menjadi bentuk gas. Misalnya, nitrit dalam asam lemah akan berkembang gas nitrogen ketika kontak dengan garam amonium, dengan susunan amino sederhana seperti urea, dan sedikit dengan lignin, fenol, dan karbohidrat. Reaksinya dapat digambarkan sesuai dengan yang terjadi pada urea :
2 HNO2 + CO (NH2)2 CO2 +3 H2O + 2 N2
Nitrit Urea
(Brady, 1984).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk memonitor transformasi yang dilakukan mikroba terhadap senyawa nitrogen di dalam tanah.


Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.









TINJAUAN PUSTAKA
Nitrifikasi
Ion ammonium dalam tanah dapat dioksidasi secara enzimatik oleh bakteri tanah, nitrit pertama menguntungkan dan nitrit selanjutnya. Bakteri itu dikelaskan sebagai autotrof karena mereka mendapatkan energinya dari oksidasi ammonium ion menjadi bahan organik. Proses ini dapat berakhir dengan nitrifikasi yang memiliki dua tahap utama. Tahap pertama menghasilkan perubahan ammonium menjadi nitrat oleh sekelompok spesifik tertentu dari autotrof bakteri (Nitrosomonas). Nitrit lalu dibentuk dan kemudain secara spontan dilanjutkan oleh grup kedua, Nitrobacter. Hasilnya, ketika NH4+ dilarutkan dalam tanah, biasanya dikonversikan secara cepat dalam NO3-. Oksidasi enzimatik melarutkan energy dan dapat ditunjukkan sangat sederhana dengan :
Step I NH4+ + 1 ½ O2 NO2- + 2 H+ + H2O + 275 kj energi
Step II NO2- + 1/2 O2 NO3- + 76 kj energi
(Brady and Weil, 2008).
Bakteri nitrifikasi sangat sensitive terhadap lingkungan mereka, lebih dari heterotrof pada umumnya. Akibatnya kondisi tanah mempengaruhi vigor dari nitrifikasi yang membutuhkan perhatian tertentu. Diantaranya adalah (a) aerasi, sejak nitrifikasi dip roses oksidasi pada tiap prosedur, itu meningkatkan aerasi pada tanah per point, memperbesar jumlah ini (b) temperature, umumya untuk proses ini dibutuhkan antara 800 – 900 F. Pada 1250 F, nitrifikasi akan langsung berhenti (c) kelembaban, rataan hasil nitrifikasi dalam tanah dengan menandakan adanya kapasitas air, proses mulai melambat pada kondisi kelembaban yang sangat tinggi dan sangat rendah (d) kejenuhan basa. Nitrifikasi membutuhkan keadaan kejenuhan basa yang tinggi (e) pupuk (f) kadar C/N (Brady, 1974).
Besarnya jumlah pengaruh kimia dalam perubahan bentuk reduksi nitrogen dalam pupuk untuk bentuk oksidasi oleh mikroorganisme atau pembatas sikap dari enzim tanah. Objek dari produk diatur nitrifikasi dan menjaga nitrogen dalam bentuk ammonium. Dalam bentuk ini, nitrogen tidak tercuci segera atau diubah ke dalam bentuk gas yang lepas dari tanah. Hasil percobaan di lapangan dalam efisiensi nitrogen, dipengaruhi oleh inhibitor nitrifikasi yang menunjukkan hasil yang kecil dalam peningkatan dari satu dalam enam test. Beberapa insektisida juga menghambat nitrifikasi dalam lapangan (Jones, 1982).
Nitrifikasi adalah proses dimana ammonium (NH4+) yang dioksidasi ke nitrat (NO2-) dan kemudian menjadi nitrat (NO3-). Rataan nitrifikasi juga di pengaruhi oleh kelembaban tanah dan cenderung menjadi sangat lambat pada tanah kering, dimana air encer membatasi difusi dari NH4+ ke nitrifiers. Secara spontan nitrifikasi adalah proses keasaman dalam oksidasi dari NH4+ ke NO3- menghasilkan ion H+. Sedangkan ini juga sensitif untuk mengubah pH tanah tersebut, dalam tanah pertanian, nitrifikasi tak berarti dibawah pH 4,5. Tetapi rataan nitrifikasi cenderung menjadi lemah pada temperatur tanah hutan asam (Bardgett, 2008).
Dalam keadaan menguntungkan berlangsungnya kedua reaksi tersebut, transformasi dari amonium menjadi benuk nitrit berlangsung sangat cepat menyusul reaksi pertama, sehingga tidak sempat terjadi penimbunan nitrit. Hal ini sangat menguntungkan karena bentuk nitrit bersifat racun bagi tanaman, akibatnya bentuk nitrat cenderung diakumulasikan di dalam tanah. Sebagai catatan bahwa bentuk ion nitrit ini tidak umum terdapat di dalam tanah dalam jumlah yang banyak (Damanik, dkk, 2011).
Denitrifikasi
Denitrifikasi dilakukan oleh organisme anaerob fakultatif yang menggunakan nitrat sebagai pengganti oksigen dalam respirasi, reaksinya tampak sebagai berikut :
C6H12O6 + 4 NO3- 6 CO2 + 6 H2O + 2 N2 (Plus NO, N2O dan NO2)
Dalam kondisi tanah yang jenuh air, denitrifikasi terjadi dalam keadaan anaerob dan mungkin terjadi di bagian dalam agregat-agregat lembab dalam tanah yang dianggap berdrainase baik. Biasanya denitrifikasi bersifat merusak bagi pertanian, karena nitrogen hilang, seperti bila pupuk nitrat diberikan pada tanah yang berdrainase buruk. Dalam perjalanannya, jasad renik berangsur-angsur mendenitrifikasi nitrat, yang lalu terlepas sebagai gas nitrogen (Foth, 1994).
Sebagai konsekuensi mobilitasnya yang besar dan absorbsi ion nitrat yang cepat oleh tanaman, semua pupuk nitrat terutama sangat cocok untuk memperbaiki kekurangan nitrogen yang diketahui terlambat. Meskipun demikian mereka mempunyai sifat garam yang membakar. Mereka juga mudah terlindi dalam tanah. Pupuk nitrat hendaknya jangan digunakan dalam tanah karena nitrogen akan hilang oleh proses denitrifikasi dalam tanah (bakteri tanah memecah nitrat menjadi nitrogen ketika mereka menggunakan oksigen dari NO3- untuk respirasi) (Williams, et al, 1993).
Reduksi oleh organisme, reduksi nitrat nitrogen ke bentuk gas merupakan paling tersebar luas menjadi tipe penguapan. Biokimia reduksi paling umum. Mikroorganisme meliputi anaerobic facultative pada umumnya. Mereka mempersiapkan oksigen elemen tapi dibawah aerasi yang kurang bisa menggunakan kombinasi oksigen dalam nitrat dan beberapa dari produk reduksi mereka. Mekanisme yang diperlukan dengan reduksi belum diketahui. Sedangkan gambaran umum reaksi dapat digambarkan sebagai berikut :
2 NO3- -2[O] 2 NO2- -2[O] 2 NO -[O] N2O -2[O] N2
nitrat nitrit nitrit nitrogen elementsi N2
oksida oksidasi
(Brady, 1984).
Terdapat 2 mekanisme kehilangan nitrogen dengan denitrifikasi. Denitrifikasi kimia dan denitrifikasi biologi. Biologi denitrifikasi terjadi dalam tanah anaerobic puncak dalam pembebasan dari N2O dan N2. Perhitungan dari kehilangan N sangat sulit, karena meskipun N2O konsentrasinya dalam udara tanah dapat diukur secara akurat dengan kromatografi udara, N terlihat sebagai N2 dapat diketahui dari dasar gas N2 jika original substrat N diberi diberi label dengan 15N (White, 1987).
Denitrifikasi adalah suatu proses pembentukan atau penguraian nitrat oleh adanya aktivitas mikroba tanah yang sampai saat ini menjadi masalah penting dan serius pemupukan di tanah sawah, karena dapat menyebabkan kehilangan N dalam jumlah besar. Kehilangan berkisar antara 20-40 % di India dan 30-50 % di Jepang, dimana kecepatan hilangnya nitrat karena denitrifikasi dipengaruhi oleh sifat tanah dan suhu. Bila suhu rendah sekitar 50 C, proses denitrifikasi menjadi lambat, sedangkan pada kondisi tropis (Indonesia) sebagian akan hilang beberapa hari setelah penggenangan (Suryadientina, 2009).


BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 19 April 2011 pukul 13.00 WIB sampai selesai di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian ± 25 dpl.
Bahan dan Alat Percobaan
Adapun bahan yang digunakan yaitu :
Periode I
- 165 gr tanah gaperta, sebagai objek percobaan
- 165 gr tanah tanjung gusta, sebagai objek percobaan
- 165 gr tanah kampus USU, sebagai objek percobaan
- 165 gr tanah Helvetia, sebagai objek percobaan
- 16 botol infuse, sebagai wadah tanah 10 gr
- 4 botol ukuran 600 ml, sebagai wadah tanah 100 gr
- 2 gelas plastic (cup), sebagai wadah tanah 25 gr
- KNO3, sebagai sumber nitrogen
- Plastik, sebagai penutup botol-botol percobaan
- Karet gelang, sebagai pengikat kait palstik pada botol
- Label nama, sebagai penanda perlakuan
- Air destilasi, sebagaisumber air dan disiramkan pada tanah
- Tanah yang diinkubasi 1 minggu, sebagai objek percobaan
- (NH2)2 SO4, sebagai sumber amonium
- Glukosa, sebagai sumber karbon
- Reagen Nesstler , sebagai indicator akitivitas mikroba
- Kertas whatman ® # 42, sebagai tempat pembacaan
- Air, sebagai bahan pelembab tanah sebelum diberi reagen nesstler
- Tissue, sebagai pembersih
- Aluminium foil, sebagai penutup reagen nesstler
Adapun alat yang digunakan yaitu :
- Timbangan analytic, sebagai pengukur berat bahan
- Timbangan benchtop (± 0,01 g), sebagai pengukur berat
- Mangkuk timbang, sebagai wadah bahan saat ditimbang
- Spatula, sebagai pengambil bahan (pengaduk)
- 6 buah Erlenmeyer 125 ml untuk tiap jenis tanah, sebagai wadah tanah
- Gelas ukur 25 ml, sebagai pengukur larutan
- Corong saring, sebagai penyalur larutan untuk dipindahkan
- Labu ukur, sebagai wadah pengenceran
- Pipet, sebagai tempat penyaluran larutan
- Gelas ukur, sebagai pengukur bahan cair
- Selang infuse, sebagai penyalur air ke cawan porselir
- Cawan porselin, sebagai wadah pengamatan




Prosedur percobaan
Periode I
- Ditimbang 10 gr masing-masing tanah x 4 da dimasukkan ke dalam 4 kontainer (botol). Berikan kesemua kontainer 0,01 % KNO3 1 gr. Aduk sampai merata menggunakan spatula.
- Ditimbang 2 x 25 gr tanah ke dalam 2 kontainer tanpa nitrat dan 100 gr x 1 pada wadah kontainer 600 ml.
- Diinkubasi tanah selama 1 minggu, namun tutup kontainer dengan plastic yang telah diberi lubang-lubang kecil. Catat berat dari tanah + kontainer + plastik + karet gelang.
- Ditambahkan 25 ml air pada tanah inkubasi
- Diberi selang pada botol infuse
- Diteteskan pada cawan porselen dan diberi reagen nesstler (2-3 tetes)
- Diamati perubahan yang terjadi
Periode II
Konsentrasi nitrat pada minggu pertama
- Ditimbang semua tanah berikut dengan kontainer dan catat
- Dihitung kelembaban tanah
- Ditimbang 10 gr sampel tanah masukkan ke dalam 6 erlenmeyer 125 ml (4 dengan nitrat dan 2 kontrol tanpa nitrat). Catat berat setiap tanah yang tersisa dalam container (termasuk plastic penutup dan karet gelang). Gunakan 1 erlenmeyer kosong (tanpa tanah) sebagai blanko (jadi semuanya ada 7 buah Erlenmeyer).
- Ditambahkan 25 ml air destilasi ke setiap erlenmeyer dan aduk sesekali dalam periode 30 menit.
- Disaring suspense dengan menggunakan kertas whatman ® # 42 ke dalam mangkuk plastic. Hanya diperlukan beberapa ml nitrat saja.
- Diukur dengan menteskan larutan nesstler pada tiap larutan
- Diteteskan pada cawan porselen
- Ditambahkan 2-3 tetes reagen nesstler
- Diamati perubahan yang terjadi
Tambah amonium ke dalam tanah
- Ditambahkan 0,1 % (NH2)SO4 berdasarkan berat kering ke 4 sampel tanah. Catat jumlah yang ditambahkan. Aduk dengan rata menggunkan spatula
- Diberi label pada tiap dengan container “aerobic”. “anaerobic”, aerobic + anarobik”, “aerobic + glukosa”.
- Ditamabahkan glukosa pada setiap perlakuan glukosa sebanyak 0,5 % (1 gr) berdasarkan berat kering. Aduk dengan rata dengan spatula.
- Diberi label “aerobic” atau “aerobic + anaerobic”, koreksi lagi kadar aiar dari tanah seperti keadaan semula. Kemudian tutup dengan penutup plastic sebelumnya, lalu timbang lagi.
- Untuk perlakuan : aerobic dan “anaerobic + glukosa “ tambahkan air destilasi sampai jenuh. Air ditambahkan dengan perlahan dan tanah diaduk agar pori dijenuhi oleh air.
- Diganti tutup dengan tutup plastic yang tidak berlubang-lubang. Timbang tanah dengan container beserta penutup.
- Diberi 25 ml air kedalam botol
- Disaring dengan menggunakan kertas saring
- Diteteskan pada cawan porselen dn diberi reagen nesstler (2-3 tetes)
- Diamati perubahan yang terjadi
Periode III
- Ditimbang tiap container dan catat berat. Hitung lagi kadar air akhir
- Dianalisa keberadaan nitrat dengan reagen nesttler. Larutan sampel diambil dari 10 gr dari tiap sampel tanah seperti yang dilakukan pada periode kedua
- Disediakan seluruh botol perlakuan
- Dipasang selang infuse pada botol infuse dan diberi air 25 ml ke dalam botol infuse
- Diletakkan cawan porselen dibawah selang da dibiarkan air menets sekitaer 2-3 tetes pada cawan.
- Ditetestkan regaen nesstler pada cawan tersebut dan diamati perubahannya.
- Untuk perlakuan botol cup ditambahkan air 25 ml lalu disaring dengan menggunakan kertas saring sekitar 3-4 tetes
- Diberi reagen nesstler dan dicatat hasil pengamatan








HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
No Perlakuan Perubahan
1 Tanah A 100 gr + KNO3 Ada
2 Tanah B 100 gr + KNO3 Ada
3 Tanah C 100 gr + KNO3 Ada
4 Tanah D 100 gr + KNO3 Ada
5 Tanah A 25 gr Ada
6 Tanah B 25 gr Ada
7 Tanah A 10 gr + kapas Tidak ada
8 Tanah B 10 gr + kapas Tidak ada
9 Tanah C 10 gr + kapas Tidak ada
10 Tanah D 10 gr + kapas Tidak ada
11 Tanah A 10 gr + kapas + (NH4)2SO4 Tidak ada
12 Tanah B 10 gr + kapas + (NH4)2SO4 Tidak ada
13 Tanah C 10 gr + kapas + (NH4)2SO4 Tidak ada
14 Tanah D 10 gr + kapas + (NH4)2SO4 Tidak ada
15 Tanah A 10 gr + aerob Ada
16 Tanah B 10 gr + anaerob Ada
17 Tanah C 10 gr + aerob Ada
18 Tanah D 10 gr + anareob Ada
19 Tanah A 10 gr + glukosa + aerob Ada
20 Tanah B 10 gr + glukosa + anaerob Ada
21 Tanah C 10 gr + glukosa + aerob Ada
22 Tanah D 10 gr + glukosa + anaerob Ada

Keterangan : - Tanah A : Tanah Helvetia
- Tanah B : Tanah Tj. Gusta
- Tanah C : Tanah Kampus
- Tanah D : Tanah Gaperta

Pembahasan

Dari hasil percobaan diketahui bahwa tanah dengan penambahan KNO3 mengalami denitrifikasi yang ditandai terjadi perubahan pada air yang ditetesi reagen nesstler menjadi kuning. Ini juga menunjukkan adanya aktivitas bakteri pendenitrifikasi seperti Pseudomonas dan Thiobacillus. Adanya perubahan wujud KNO3 menjadi N2 (NO3 bereaksi) dengan ini dapat menunjukkan pupuk nitrat sangat mudah kehilangan unsure N. Hal ini sesuai dengan literature Williams, et al (1993) yang menyatakan pupuk nitrat hendaknya jangan digunakan dalam tanah karena nitrogen akan hilang oleh proses denitrifikasi dalam tanah (bakteri tanah memecah nitrat menjadi nitrogen ketika mereka menggunakan oksigen dari NO3- untuk respirasi).
Dalam percobaan dengan tanah + kapas, tidak ditemui adanya proses nitrifikasi. Hal ini disebabkan karena kapas merupakan inhibitor dalam kegiatan tersebut. Dismaping itu juga perlakuan tanah + kapas + (NH4)2SO4 mengalami hsil yang sama (tidak terjadi aktivitas). Meskipun ada penyuplai amonium dalam bentuk bahan kimia namun karena ada kapas maka menghalangi jalannya perubahan tersebut. Hal ini sesuai denga literature Jones (1982) yang menyatakan besarnya jumlah pengaruh kimia dalam perubahan bentuk reduksi nitrogen dalam pupuk untuk bentuk oksidasi oleh mikroorganisme atau pembatas sikap dari enzim tanah. Hasil percobaan di lapangan dalam efisiensi nitrogen, dipengaruhi oleh inhibitor nitrifikasi yang menunjukkan hasil yang kecil dalam peningkatan dari satu dalam enam test.
Pada data dengan tanah + aerib dan tanah + anaerob, proses nitrifikasi dan denitrifikasi berlangsung. Pada tanah + aerob, nitrifikasi terjadi dengan adanya perubahan amonium menjadi nitrat yang pada kondisi anaerob dilanjutkan dengan peristiwa denitrifikasi. Dari ini dapat diketahui jenis bakteri yang berperab adalah bakteri autotrof yang menghasilkan energy. Hal ini sesuai dengan literatur Brady and Weil (2008) yang menyatakan ion ammonium dalam tanah dapat dioksidasi secara enzimatik oleh bakteri tanah, nitrit pertama menguntungkan dan nitrit selanjutnya. Bakteri itu dikelaskan sebagai autotrof karena mereka mendapatkan energinya dari oksidasi ammonium ion menjadi bahan organik. Oksidasi enzimatik melarutkan energy dan dapat ditunjukkan sangat sederhana dengan :
Step I NH4+ + 1 ½ O2 NO2- + 2 H+ + H2O + 275 kj energi
Step II NO2- + 1/2 O2 NO3- + 76 kj energy
Sedangkan pada tanah + glukosa + anaerob mengalami proses denitrifikasi pula. Fungsi glukosa disini sebagai penyuplai energy (karbon) untuk dapat diubah menjadi N2 oleh bakteri anaerob fakultatif yang terdapat di dalam tanah tersebut. Air yang menggenangi tanah menciptakan kondisi anaerob dan menyebabkan agregat-agregat lembab dalam tanah dan berdrainase sehingga memungkinkan denitrifikasi. Hal ini sesuai dengan literatur Foth (1994) yang menyatakan denitrifikasi dilakukan oleh organisme anaerob fakultatif yang menggunakan nitrat sebagai pengganti oksigen dalam respirasi, reaksinya tampak sebagai berikut :
C6H12O6 + 4 NO3- 6 CO2 + 6 H2O + 2 N2 (Plus NO, N2O dan NO2)
Dalam kondisi tanah yang jenuh air, denitrifikasi terjadi dalam keadaan anaerob dan mungkin terjadi di bagian dalam agregat-agregat lembab dalam tanah yang dianggap berdrainase baik.
Terjadinya keragaman hasil pada percobaan ini menunjukkan bahwa proses denitrifikasi dan nitrifikasi dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Hal ini dikarenakan bakteri nitrifikasi sangat sensitive terhadap lingkungannya. Tanah yang memilki bakteri tersebut memiliki beberapa karakter berbeda antara tanah A, B, C, D yang memilki sifat tanah yang berbeda seperti kelembaban dan temperatur yang dipengaruhi oleh penggenangan air pada botol-botol percobaan pada kondisi anaerob, lalu kadar glukosa yang ditambahkan pada perlakuan tertentu, aerasi dari tanah itu sendiri sebagai ruang hidup bakteri dan kapasitas tukar kation (kejenuhan basa) yang dimiliki tanah untuk menangkap NO3- dari KNO3 dan NH4+ pada (NH4)2SO4. Hal ini sesuai denga literatur Brady (1974) yang menyatakan bakteri nitrifikasi sangat sensitive terhadap lingkungan mereka, lebih dari heterotrof pada umumnya. Akibatnya kondisi tanah mempengaruhi vigor dari nitrifikasi yang membutuhkan perhatian tertentu. Diantaranya adalah (a) aerasi (b) temperature (c) kelembaban (d) kejenuhan basa (e) pupuk (f) kadar C/N.
Dari ini dapat diketahui bahwa nitrifikasi merupakan proses pengubahan bentuk NH4+ dari (NH4)2SO4 ke NO3- dari KNO3. Pru merupakan prinsip dari proses nitrifikasi dimana terjadinya proses keasaman dalam oksidasi dari NH4+ ke NO3- dan menghasilkan ion H+. Hal ini sesuai dengan literatur Bardgett (2008) yang menyatakan nitrifikasi adalah proses dimana ammonium (NH4+) yang dioksidasi ke nitrat (NO2-) dan kemudian menjadi nitrat (NO3-). Secara spontan nitrifikasi adalah proses keasaman dalam oksidasi dari NH4+ ke NO3- menghasilkan ion H+.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa proses nitrifikasi yang paling banyak terjadi (terdapat dalam jumlah besar) yang ditandai adanya 14 perlakuan yang menunjukkan gejala nitrifikasi dan hanya 8 yang menunjukkan denitrifikasi. Hal ini disebabkan amonium sangat cepat dapat diubah menjadi bentuk nitrat. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2011) yang menyatakan dalam keadaan menguntungkan berlangsungnya kedua reaksi tersebut, transformasi dari amonium menjadi benuk nitrit berlangsung sangat cepat menyusul reaksi pertama.









KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Tanah dengan perlakuan penambahan KNO3 (tanah + KNO3) mengalami proses nitrifikasi yang ditandai adanya perubahan KNO3 menjadi NO3-.
2. Tanah dengan perlakuan kontrol juga mengalami proses nitrifikasi dan denitrifikasi.
3. Tanah + kapas dan tanah + kapas + (NH4)2SO4 mengalami proses denitrifikasi.
4. Tanah + aerob dan tanah + anaerib mengalami nitrifikasi yang menunjukkan bahwa proses itu membutuhkan kondisi tersebut.
5. Tanah dengan penambahan glukosa mengalami nitrifikasi yang mengubah glukosa tersebut ke dalam CO2, H2O, N2 (Plus NO, N2O dan NO2).
6. Perbedaan tingkat nitrifikasi dan denitrifikasi dipengaruhi oleh jenis tanah yang menunjukkan sifat tanah yang secara langsung menentukan faktor terjadinya proses tersebtu yaitu kelembaban, temperatur, aerasi, dan kejenuhan basa.
Saran
Pada saat meneteskan reagen nesstler sebaiknya dilakukan hait-hati dan tidak terlalu banyak (sekitar 2-3 tetes saja).





DAFTAR PUSTAKA
Bardgett, R.D. 2008. The Biology of Soil : A community and Ecosystem Approach. Oxford University Press. London

Brady, N.C. 1984. The Nature and Properties of Soils. Mac Millan Publishing Company. New York.

Brady, N. C. 1974. The Nature and Properties of Soils. 8th Edition. Mac Millan Publishing CO.Inc. New York.

Brady, N. C and R.R. Weil .2008. The Nature and Properties of Soils. 40th Edition. Pearson Hall. New Jersey.

Damanik, M.M.B ; B.E. Hasibuan ; Fauzi ; Sarifuddin ; H. Hanum. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan.

Foth, H.D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. 6th Edition. Penerjemah : Soenartono Adisoemartono. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Jones, U.S. 1982. Fertilizers and Soil Fertility. Reston Publishing Company. Prentice-Hall Company. Virginia.

Suryadientina. 2009. Denitrifikasi. Diakses dari http://biogen.litbang.deptan.go.id. Pada tanggal 26 April 2011.

White, R.E. 1987. Introduction to The Principles and Practices of Soil Science. Blackwell Scientific Publications. Melbourne.

Williams, C.N ; J.O U 20 ; W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Penerjemah : S. Ronoprawiro. UGM Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar